Daftar Penerima Hadiah Nobel Pendukung Universal Basic Income

“Menggaji” setiap warga negara bukanlah sebuah konsep atau gagasan baru. Bukan pula gagasan nyleneh yang muncul begitu saja tanpa pemikiran mendalam. Boleh dikatakan, ide Jaminan Pendapatan Dasar (JPD) atau Universal Basic Income (UBI) ini merupakan gagasan matang yang memiliki jejak historis dan literatur cukup panjang. Sejak Thomas Moore menulis novel “Utopia” – yang berisi bayangan tentang masyarakat ideal di Inggris abad 15 – hingga belasan peraih hadiah nobel ekonomi maupun nobel perdamaian, tak sedikit yang ikut menekankan pentingnya Jaminan Penghasilan ini sebagai “hak” dasar bagi setiap warga negara.

Sebagai gagasan yang didukung (maupun ditolak) pemikir “kanan” dan “kiri” sekaligus, tentu UBI bukan saja layak untuk mendapatkan uji coba, tetapi juga penting untuk terus diperdebatkan kelebihan maupun kekurangannya sesuai dengan konteks kemajuan jaman. Mencari format jaminan sosial yang ideal tentu tidak mudah dalam tataran praktis. Diperlukan beberapa penyesuaian, baik dari sisi Universalitas (apakah benar menggaji setiap orang adalah jalan keluar yang adil bagi setiap tipe dan bentuk masyarakat/negara?) maupun ketentuan-ketentuan lain yang menyertainya (conditional vs. unconditional).

Sebagai bekal pengayaan dan tambahan wawasan terhadap ide jaminan penghasilan dasar, berikut ini merupakan deretan penerima hadiah nobel (baik ekonomi maupun perdamaian) yang semasa hidupnya maupun di dalam pernyataannya pernah mendukung atau menekankan pentingnya menjamin pendapatan setiap warga negara demi pertumbuhan, pemerataan, hingga keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi yang menjadi cita-cita kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

1) Martin Luther King Jr. (Penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1964)

Di buku terakhirnya, Where Do We Go from Here: Chaos or Community? (1968) ia menyerukan pentingnya jaminan pendapatan dasar ini. Ia menganggap UBI bukan sekedar program pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan, tetapi lebih dari itu, ia adalah hak warga sipil untuk mendapat jaminan dari negara atau pemerintah untuk membantu mereka keluar dari lingkaran kemiskinan. Berikut ini adalah pidato lengkapnya yang menyinggung tentang UBI:

 

2) Paul Samuelsen (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1970)

Pada musim semi 1968, sebuah petisi dikeluarkan dan ditandatangani oleh lebih dari seribu ekonom, termasuk di dalamnya Paul Samuelson (ekonomi MIT), yang menyerukan agar Kongres AS mengadopsi sebuah sistem jaminan pendapatan dalam bentuk Rencana Bantuan Keluarga (Family Assistance Plan/FAP). FAP ini merupakan sebuah program kesejahteraan sosial skala besar yang disiapkan oleh senator demokrat, Daniel Patrick Moynihan (1927-2003), atas nama pemerintahan Presiden  Richard Nixon (Republikan). FAP memberikan penghapusan program bantuan yang menargetkan keluarga miskin dan memasukkan jaminan pendapatan untuk pekerja yang mendekati skema pajak pendapatan negatif (Negativa Income Tax/NIT). Gagasan ini diumumkan kepada publik oleh Presiden Nixon pada bulan Agustus 1969, diadopsi pada bulan April 1970 oleh mayoritas besar di Dewan Perwakilan Rakyat AS namun kemudian ditolak oleh Komisi Senat AS pada tahun 1972.

 

3) Friedrich Hayek (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1974)

Dalam bukunya berjudul “Law, Legislation, and Liberty (Volume 3): The Political Order of Free People“, Hayek mengungkapkan pentingnya pembayaran Jaminan Penghasilan Dasar (a certain minimum income for everyone) ini sebagai bagian penting dalam kehidupan sebuah masyarakat yang besar dan maju (great society). Meskipun Ia tidak lantas merinci mengapa jaminan pendapatan ini penting? namun ulasan dari Matt Zwolinski dapat membantu kita untuk merekonstruksi gagasan tokoh libertarian ini.

Kutipan dari buku Hayek (1973, hal 55)

 

4) Milton Friedman (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1976)

Ekonom Amerika dan tokoh libertarian terkemuka, Milton Friedman, menganjurkan skema jaminan penghasilan dasar dalam bentuk pajak penghasilan negatif (negative income tax/NIT) dalam bukunya Capitalism and Freedom (1962) dan buku lainnya berjudul Free to Choose (1980). Baca juga artikel IndoBIG tentang perbedaan UBI dan NIT disini: http://indobig.net/negative-income-tax-nit-dan-universal-basic-income-ubi-apa-bedanya/

 

5) James Meade (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1977)

Ekonom Inggris, James Meade, menguraikan sistem dividen sosial (social dividend) yang kemudian disebutnya sebagai “sosialisme liberal”. Meade mengadvokasi pembalikan proses nasionalisasi Inggris dalam periode pasca-Perang Dunia Kedua, di mana industri Inggris banyak yang dinasionalisasi, dimiliki serta dikontrol oleh negara. Dalam model pengaturan dividen sosial tersebut, negara akan bertindak sebagai pemegang saham yang menerima pendapatan residual dari perusahaan milik negara yang hasilnya akan digunakan untuk membiayai dividen sosial. Manfaat utama dari sistem Meade adalah pemisahan manajemen mikro pemerintah dari manajemen perusahaan, pasar tenaga kerja yang fleksibel, dan dividen yang dibagikan secara luas dianggap akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di antara penduduk.

 

6) James Tobin (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1981)

Ekonom Yale, peraih Nobel dan bapak proposal “Pajak Tobin”, James Tobin, adalah satu di antara akademisi pertama yang menerbitkan makalah teknis tentang pajak penghasilan negatif (NIT) pada akhir dekade enam puluhan. Dia memilih varian pajak penghasilan negatif yang kemudian disebutnya sebagai demogran. Ia pun memberikan saran kepada George McGovern untuk memakai platform ini dalam pemilihan presiden AS tahun 1972. Ia pertama kali tertarik pada penghasilan dasar atau demogran pada 1965 ketika berusaha  menulis artikel untuk jurnal Daedalus tentang Peningkatan Status Ekonomi kelompok Negro yang kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 1966. Salah satu gagasan utama dalam proposal demogran Tobin ini adalah pemberian jaminan pendapatan universal sebesar $ 300 untuk setiap warga negara Amerika.

 

7) George Stigler (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1982)

Dalam ilmu ekonomi, Stigler terkenal karena mengembangkan Teori Ekonomi Regulasi, yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok kepentingan dan para politisi akan menggunakan kekuatan regulasi dan paksaan pemerintah untuk membentuk undang-undang dan peraturan yang menguntungkan bagi kelompok mereka. Di University of Chicago, ia sangat dipengaruhi oleh Frank Knight, supervisor disertasinya, dan Milton Friedman, sahabatnya elama lebih dari 60 tahun. Stigler merupakan satu dari empat mahasiswa yang berhasil lulus menjadi doktor di bawah bimbingan Knight (dalam 28 tahun keberadaan Knight di Chicago, hanya empat mahasiswa yang berhasil lulus dibawah bimbingannya). Bersama sahabatnya ini pula (Friedman), Stigler meletakkan pondasi untuk kebijakan pajak penghasilan negatif (NIT) yang dianggap sebagai bentuk lain dari UBI.

 

8) Herbert Simon (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1978)

Dalam sebuah artikel yang ditulisnya untuk Boston Review (2000), Herbert Simon menunjukkan bahwa Ia adalah salah satu pendukung gagasan Universal Basic Income (UBI). Ia mengatakan bahwa Ia sangat setuju dengan argumen Philippe Van Parijs – salah satu pemikir UBI kontemporer – tentang UBI atau “warisan”  dimana sebagian dari produk masyarakat harus dibagikan kepada semua orang yang tinggal di masyarakat itu. Menetapkan dana warisan semacam itu sama dengan mengakui kepemilikan bersama atas sebagian besar sumber daya fisik dan intelektual, yang memungkinkan masyarakat memproduksi apa yang telah dan mampu dihasilkannya.

 

9) Desmond Tutu (Penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1984)

Pada Kongres Basic Income Eearth Network (BIEN) ke 11 tahun 2006 di Afrika Selatan, Desmond Tutu menunjukkan dukungan yang sangat kuat untuk gerakan UBI di seluruh dunia sebagai upaya untuk mengembalikan martabat dan kesejahteraan umat manusia secara inklusif. Isi lengkap pidatonya dapat dilihat dalam video di bawah ini:

 

10) Robert Solow (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1987)

Dalam sebuah wawancara bersama Paul Krugman (sesama penerima hadiah Nobel) pada tahun 2015, Robert Solow ditanya tentang UBI dan mengapa ia lebih suka universalitas daripada pemberian bersyarat? inilah jawaban dan penjelasan dari Robert Solow:

 

11) James Mirrlees (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1996)

Mirrlees memelopori studi tentang pajak penghasilan dan menjadi orang pertama yang memperoleh teori tentang bagaimana pendapatan tenaga kerja harus dikenakan pajak jika tujuannya adalah untuk memaksimalkan fungsi kesejahteraan sosial. Ciri dari pendekatannya adalah bahwa pajak tidak harus linier, yang berarti bahwa tingkat pendapatan yang berbeda dapat dikenakan pajak pada tingkat yang berbeda pula. Oleh karena itu, menurut Ghatak & Maniquet (2019), skema perpajakan Mirrlees yang optimal tak lain adalah skema UBI dimana semua individu yang tidak bekerja menerima jumlah transfer yang sama (−τ (0)), dan semua individu yang berpenghasilan (> 0) akan lebih memilih pendapatan mereka dibanding UBI. Skema perpajakan  optimal dari Mirrlees ini berasal dari asumsi; pertama, semua individu memiliki preferensi yang sama dan, kedua, tidak ada perangkat seleksi yang memungkinkan pembuat kebijakan untuk membuat penghasilan dasar tergantung pada kemampuan seseorang untuk menghasilkan pendapatan (conditionality).

 

12) Daniel McFadden (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi Tahun 2000)

Pada 2017, beberapa ekonom pemenang hadiah Nobel berpartisipasi dalam pertemuan Lindau ke-6 tentang ilmu ekonomi di Jerman. Selama diskusi panel, Daniel McFadden menjelaskan bagaimana memperkenalkan Kasino di komunitas asli Amerika di sepanjang Rio Grande yang telah memungkinkan mereka untuk memberikan penghasilan dasar kepada orang miskin dan betapa sistem yang sederhana itu telah berhasil mengejutkan banyak pihak:

“Banyak ekonom akan berpikir itu (pembayaran UBI) bukan hal yang baik untuk dilakukan, tetapi yang terjadi adalah tingkat kekerasan pada anak turun secara drastis, kekerasan dalam rumah tangga turun secara drastis, kejahatan menurun. Memberikan uang kepada orang miskin adalah hal yang bermanfaat. Itu sangat membantu mereka. Terperangkap dalam kemiskinan, dengan tekanan dan rasa tidak aman yang tinggi, sungguh semakin melemahkan. Kadang-kadang, jenis transfer yang paling sederhana pun, dapat memutus siklus kemiskinan ini.”

 

13) Vernon Smith (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002)

Dalam sebuah artikel 2017 yang diterbitkan di The Wall Street Journal, Vernon Smith menulis sebuah artikel berjudul “Trump’s Best Deal Ever: Privatizes the Interstates”.  Di dalam tulisannya tersebut, ia mengangkat persoalan UBI sebagai berikut:

“Anda bisa menggunakan uang dari penjualan jalan raya dan tanah untuk memberi manfaat bagi semua orang Amerika dengan menciptakan Dana Abadi Warga yang baru lalu berinvestasi dalam saham, obligasi, dan real estate di seluruh dunia. Setiap warga negara akan memiliki bagian yang sama besar dengan dividen tahunan dibayarkan secara tunai…

Dengan pembangunan jalan raya yang lebih baik, lebih banyak lahan untuk pengembangan produktif, ditambah dana permanen yang dikirim langsung ke setiap warga negara, maka Anda (Trump) mungkin akan mampu mendapatkan suara dari kelompok progresif…

Jika Anda pikir itu kue di langit, tanyakan Alaska. Alaska Permanent Fund, yang dimulai pada tahun 1976 untuk mendistribusikan pendapatan minyak, memiliki nilai pasar yang saya perkirakan sebesar $ 72.000 untuk setiap warga negara Alaska. Dividen tahunan dimulai pada tahun 1982, ketika perusahaan publik yang mengelola dana memotong cek pertama sebesar $ 1.000. Tidak mengherankan bahwa Alaska adalah yang kedua di antara semua negara bagian dalam kesetaraan pendapatan.

Setelah jalan raya, jembatan, dan areal federal, proyek Anda berikutnya adalah mulai melelang semua hak sumber daya mineral, minyak dan gas AS untuk disetor ke Dana Abadi Warga tersebut. Aset ini juga milik rakyat, bukan milik pemerintah. ” 

 

14) Muhammad Yunus (Penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006)

Dalam sebuah wawancara dengan Hindu BusinessLine (2018), Muhammad Yunus, ekonom dan pendiri Grameen Bank, mengatakan bahwa karena kecerdasan buatan (AI), sekarang adalah saat yang paling tepat untuk memperkenalkan UBI.

“Bagi saya AI adalah teknologi yang paling berbahaya. Sementara kami sangat gembira dengan semua yang AI dapat capai untuk membuat hidup kami lebih indah, pada saat yang sama ribuan orang akan kehilangan pekerjaan mereka karena diambil alih oleh mesin. AI sekarang berada pada tahap di mana ia dapat menimbulkan kekacauan, dimulai dengan mobil otonom yang akan membuat ribuan pengemudi kehilangan pekerjaannya..

Manusia pada dasarnya adalah wirausahawan, pengambil keputusan, pemecah masalah, petani, pemburu, pengumpul, itulah yang dikatakan sejarah kepada kita. Tetapi, entah bagaimana teori ekonomi meyakinkan kita bahwa satu-satunya hal yang dapat kita lakukan untuk bertahan hidup adalah mencari pekerjaan.

Sistem Pendidikan berorientasi pada pekerjaan di mana Universitas dengan bangga mengatakan bahwa mereka menghasilkan orang-orang yang ‘siap kerja’ yang memalukan. Mereka harus menciptakan anak-anak muda ‘siap hidup’ yang tahu apa arti dan tujuan hidup ini. Mengapa membiarkan beberapa orang yang memiliki uang mempekerjakan Anda untuk menghasilkan uang? Kita semua telah menjadi tentara bayaran dari seluruh sistem. Kenapa kita harus dan mau menjadi tentara bayaran itu? “

15) Peter Diamond (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2010)

Dalam wawancara dengan Steve Schifferes tahun 2017 lalu, Peter Diamond mengatakan bahwa dia sekarang lebih menyukai UBI karena meningkatnya ketimpangan dan ketidaksetaraan adalah masalah serius yang harus dihadapi. Diamond percaya bahwa perdebatan tentang ketidaksetaraan dapat membantu memfokuskan diskusi tentang kegagalan kebijakan: mulai dari kurangnya investasi dalam pendidikan, penelitian dan infrastruktur, hingga kegagalan untuk memberi kompensasi kepada mereka yang menanggung biaya globalisasi melalui kehilangan pekerjaan di industri-industri besar. Dia juga berpendapat bahwa transfer tunai secara langsung, akan memperkenalkan manfaat anak kepada setiap orang yang memiliki anak dan UBI itu sendiri akan membantu mengatasi kemiskinan.

 

16) Christopher Pissarides (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2010)

Dalam diskusi panel di Forum Ekonomi Dunia 2016 di Davos, Christopher Pissarides menyatakan pentingnya UBI sebagai sebuah sistem redistribusi ekonomi yang baru:

“Pai (kue ekonomi) semakin besar, tidak ada jaminan bahwa semua orang akan mendapat manfaat dari itu jika kita membiarkan pasar bekerja sendirian. Bahkan, tidak ada satu pun orang  yang akan mendapat manfaat jika kita membiarkan sistem pasar berjalan sendirian. Jadi, kita perlu mengembangkan sistem redistribusi baru, kebijakan baru yang akan meredistribusi kekayaan tersebut kepada mereka yang tertinggal (left-behind) akibat sistem pasar bebas saat ini. Sekarang, memiliki pendapatan minimum universal adalah salah satu dari cara-cara itu, dan saya sangat mendukung gagasan itu”

 

17) Angus Deaton (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2015)

Pada sebuah forum di Taipei International Convention Center pada tahun 2016, Angus Deaton mengatakan bahwa “pemerintah harus menjaga orang-orang dengan pendapatan rendah dan harus mendorong hibah pendapatan dasar,” dan bahwa “hibah pendapatan dasar memberi setiap orang saham di negara mereka. “

 

18) Abhijit Banerjee (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2019)

Setelah berkomitmen untuk membantu mengawal eksperimen UBI GiveDirectly di Kenya selama 12 tahun, Abhijit Banerjee menulis pernyataan berikut ini dalam sebuah artikel di Indian Express untuk mendukung UBI:

“Ini adalah ide lama, kembali setidaknya ke tahun 1970-an, ketika gagasan ini mendapat dukungan baik dari libertarian sayap kanan seperti Milton Friedman dan Keynesian kiri tengah seperti John Kenneth Galbraith. Bagi orang-orang di sebelah kanan, daya tariknya adalah dua kali lipat: Pertama, tanpa syarat, artinya ini tidak menciptakan disinsentif langsung bagi mereka yang ingin bekerja lebih banyak dan hidup lebih baik. Kedua, dengan membiarkan orang punya uang dan memutuskan apa yang ingin mereka lakukan dengan uang itu, ia menjauh dari model ‘negara pengasuh’ yang dibenci oleh begitu banyak libertarian. Di sebelah kiri, dukungan datang dari pengertian bahwa UBI membuat standar minimum hidup sebagai hak dasar rakyat. Ini adalah sesuatu yang secara pribadi saya temukan sangat menarik: Jika Anda memikirkan ibu (atau ayah) yang tinggal di rumah untuk merawat anak-anak, tidak jelas mengapa kita selama ini menganggap mereka tidak melakukan apa-apa, padahal mereka telah mengorbankan dirinya untuk melakukan salah satu pekerjaan paling penting di tengah masyarakat …

Tetapi, sebelum kita sampai di sana (jika kita benar-benar ingin menerapkan UBI), ada pertanyaan apakah sistem kesejahteraan yang saat ini yang demikian beragam (uang, makanan, perumahan, perjalanan, pendidikan, perawatan kesehatan), dengan prioritas dan target mereka sendiri (muda atau tua, ibu atau anak, miskin atau miskin) masuk akal? Mengapa kita tidak memiliki satu subsidi dasar universal yang mencakup semuanya (mungkin kecuali kesehatan dan pendidikan) dan biarkan orang memutuskan bagaimana mereka akan membelanjakannya? daripada mencoba menargetkan subsidi berdasarkan pada pengetahuan kita yang tidak sempurna tentang apa yang dibutuhkan dan pantas bagi masyarakat itu sendiri “

 

19) Esther Duflo (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2019)

Dalam sebuah wawancara dengan Business Today , tak lama setelah ia dianugerahi hadiah Nobel ekonomi, Esther Duflo mengatakan hal berikut dalam mendukung UBI:

“Ini bukan hanya tentang pengeluaran publik, itu juga soal meningkatkan efektivitasnya. Penghasilan Dasar Universal menarik sebagai konsep, dan bisa dicoba. Jika Anda miskin, Anda selalu dekat dengan beberapa bencana. Jadi Anda sangat enggan untuk melakukan kegiatan berisiko. Dan karena Anda tidak berani melakukan kegiatan berisiko, Anda kurang produktif. Jadi, penghasilan dasar yang dilakukan adalah memberi orang kepastian. Keamanan semacam itu, saya pikir, akan memberi orang kepercayaan diri untuk melakukan hal-hal baru untuk meningkatkan kehidupan mereka. Saya pikir kita harus mencobanya dan bereksperimen, ini mungkin akan berhasil. “

======

(Rangkuman ini terinspirasi oleh tulisan Scott Santens tentang sebelas penerima hadiah Nobel yang mendukung gagasan UBI. Namun demikian, penulis tidak hanya merangkum sebelas penerima Nobel, tetapi 19 tokoh penerima hadiah nobel, ekonomi dan perdamaian, yang secara terbuka mendukung gagasan UBI sejak periode tahun 1960-an)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *