UBI Berbasis Blockchain: Bagaimana Cara Kerjanya? (Bagian 2)

Banyak pegiat UBI atau Jamesta di seluruh dunia fokus untuk melakukan advokasi agar pemerintah atau negara mengimplementasikan UBI. Tentu saja hal ini sangat tepat dan masuk akal. Hanya saja, seperti kita tahu, pemerintah atau negara biasanya sangat lambat dalam merespon atau mengadopsi kebijakan semacam ini. Perlu kerja-kerja pengorganisasian politik yang sangat panjang untuk sampai pada titik tersebut.

Sementara kita menunggu bagaimana Pemerintah atau Negara dan para politisi merespon, banyak inisiatif lain yang bisa dilakukan dengan tanpa campur tangan Negara. Salah satunya adalah melakukan eksperiman UBI berbasis Blockchain. Inilah yang kemudian ramai disebut sebagai “proyek desentralisasi mata uang” (Decentralized currency atau peer-to-peer money), dimana ia tidak memerlukan pihak ketiga – seperti halnya Bank Sentral mengatur uang kertas – sebagai perantara.

Beberapa contoh eksperimen UBI berbasis blockchain ini antara lain bernama Project UBU, Circles, Proof of Humanity, dan lain-lain. Tulisan bagian kedua ini akan mengulas beberapa proyek eksperimen tersebut.

Project UBU

Proyek ini telah direncanakan sejak tahun 2016 dengan nama “Universal Basic Unit Initiative”. Proyek yang berbasis di Afrikan Selatan ini memiliki ambisi untuk menyediakan UBI bagi sekitar 800 juta orang yang dianggap miskin. Proyek UBU ini menggunakan token blockchain Etherium sebagai aset atau alat distribusi UBI. Mereka yang mendaftar dalam proyek ini akan mendapatkan token crypto tersebut dan bisa menukarkannya dengan barang atau jasa yang tersedia di dalam platform atau ekosistem.

Para pendiri dan perancang proyek ini percaya bahwa token UBU akan semakin bernilai dan dapat diterima di banyak wilayah atau negara. Mereka ingin membangun sebuah ekosistem yang dapat bekerja secara global, lintas negara, dan bebas dari intervensi atau kontrol pemerintah/negara. Mereka menyebut ekosistem di dalam UBU sebagai “triangular economic system“, dimana UBU Token dapat memfasilitasi perdagangan antar anggota, antar vendor (penyedia barang dan jasa), serta UBU treasury.

Dengan menggunakan token UBU, pengguna yang terdaftar di platform dapat membeli produk dan layanan dari vendor yang juga mendaftar dalam platform ini. Setelah terdaftar, pengguna akan mendapatkan 100 token UBU secara gratis setiap hari “untuk selamanyaā€¯. Dengan cara inilah proyek ini memberikan penghasilan dasar universal untuk semua yang mendaftar.

Sayangnya, proyek ini tidak berhasil bertahan atau berjalan dengan semestinya. Informasi terakhir dari website resmi UBU, proyek terkendala finansial dan harus dihentikan pada bulan April 2020.

Circles

Proyek ini masih berjalan sampai saat ini. Berdasarkan buku panduan yang diluncurkan oleh Circles, mereka menyebut Circles ini sebagai sebuah “cara baru untuk melihat uang”. Para pegiatnya ingin membangun apa yang disebut sebagai “people powered money system“.

Mereka menawarkan cara pandang baru terhadap uang, dimana selama ini kita sering merasa bahwa dengan bekerja, kita telah “menciptakan” uang. Padahal, sebenarnya uang ini tidaklah diciptakan atau dibuat oleh kita. Kita hanya mengambil dari apa yang sudah tersedia. Uang tersebut sejatinya adalah apa yang dihasilkan dari menukar waktu dan tenaga kita. Mereka (pemberi kerja) mengambil waktu dan tenaga kita, sementara kita mengambil uang mereka.

Dalam sistem yang dibangun Circles, mereka menjanjikan bahwa kita akan mampu menciptakan uang kita sendiri dan memperoleh kembali kemerdekaan atas waktu kita. “Money is IOU (I-Owe-You)” atau janji yang kita buat untuk orang lain. Circles adalah credit money system yang memungkinkan orang untuk bertukar sumber daya yang mereka miliki dengan cara membangun jejaring dan kepercayaan (trust) di antara mereka. Inilah yang kemudian akan melahirkan sistem ekonomi yang jauh lebih demokratis dan inklusif bagi semuanya.

Selain di Berlin – tempat Circles dibangun – saat ini Circles juga memiliki anggota dan eksperimen di berbagai negara. Bahkan, sebuah eksperimen juga sedang disiapkan dan akan diluncurkan di Bali, Indonesia.

Proof of Humanity

Pada 10 Maret 2021 yang lalu, koin UBI Proof of Humanity diluncurkan di Ethereum Mainnet – sebuah kontrak pintar blockchain paling populer di dunia saat ini. Tujuannya adalah untuk memberikan jaminan pendapatan dasar (UBI) bagi setiap manusia yang hidup.

Manusia yang mendaftar platform ini dan telah diverifikasi sebagai “manusia asli”, bukan robot atau akun palsu, akan mulai menerima pendapatan dasar dengan tarif 1 koin UBI per jam. Setiap beberapa detik, semua penerima akan mendapatkan tambahan koin. Sehingga dalam sehari, mereka akan mendapatkan 24 koin UBI dan 168 koin UBI setiap minggu. Dalam setahun, dengan hitungan konstan, maka mereka akan menerima 8.760 koin UBI.

Harga setiap koin ini nantinya akan tergantung pada apa yang diperdagangkan. Seperti dicontohkan oleh Scott Santens, harga koin UBI $0,12 saat ini setara dengan $2,88/hari, $20,16/minggu, $86,40/bulan, dan $1.051/tahun dalam USD (Cek harga UBI secara realtime disini). Jika kita tinggal di tempat seperti Eropa atau AS, jumlah itu cukup dapat membantu. Akan tetapi, jika kita tinggal di Kenya atau Indonesia, maka mendapatkan jumlah sebanyak itu tentu akan dapat mengubah banyak hal dalam hidup kita.

Koin UBI ($UBI) yang didistribusikan tersebut merupakan uang baru yang “dicetak” menggunakan blockchain Ethereum. Kita semua dapat berpartisipasi dalam proyek ini. Kita juga bisa bergabung ke dalam forum Proof of Humanity untuk berinteraksi dengan anggota komunitas lainnya, terutama untuk ikut mendiskusikan beragam cara untuk mengembangkan Proof of Humanity dan $UBI, termasuk dalam pengelolaan DAO (Decentralized Autonomous Organization). Untuk mendaftarkan diri atau mendalami lebih lanjut tentang proyek Proof of Humanity ini, dapat mengikuti tutorial dari video dibawah ini:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.