Basic Income

Mereka yang Mendukung dan Menolak UBI di Amerika Serikat


Sebuah hasil survey yang dilakukan oleh Pew Research Center terhadap orang dewasa di AS baru saja dirilis (19/08/2020). Yang unik dari survey ini adalah pertanyaan khusus terkait dukungan responden terhadap ide Universal Basic Income (UBI), yaitu ide pembayaran $1.000 per bulan oleh pemerintah kepada setiap orang dewasa, baik yang bekerja maupun menganggur, untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Seperti kita tahu, Amerika Serikat dalam waktu dekat akan kembali menyelenggarakan pemilihan umum presiden. Gagasan UBI tiba-tiba menjadi perbincangan kembali di panggung politik nasional AS sejak Andrew Yang, salah satu mantan capres partai Demokrat, menjadikan 'Freedom Dividend" ini sebagai platform utama kampanyenya. Selain menyedot banyak dukungan dan perhatian, skema Basic Income ini kemudian juga sangat relevan di tengah badai krisis ekonomi akibat COVID-19 yang menyebabkan angka pengangguran dan kemiskinan di AS semakin parah. Transfer tunai langsung kepada warga negara dianggap solusi yang paling tepat dan efisien.

Polarisasi Hasil Survey

Seperti sudah diprediksi, mereka yang pro dan kontra terhadap gagasan UBI ini tidaklah jauh-jauh dari afiliasi dan preferensi politik di negeri paman Trump ini. Polarisasi politik antara kalangan liberal (diwakili oleh partai Demokrat) dan konservatif (Republikan), sangat kentara dalam menyikapi gagasan UBI ini.

Secara umum, tujuh dari sepuluh orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai pendukung partai Demokrat, cenderung mendukung gagasan UBI. Sebaliknya, delapan dari sepuluh orang di kalangan Republikan, menolak dengan keras gagasan ini.

Terlepas dari afilisasi politiknya, orang dewasa di bawah usia 30 tahun cenderung menyukai dan mendukung gagasan UBI ini dengan perbandingan dua banding satu (67% dan 33%). Sementara orang dewasa yang lebih tua, 72% dari mereka yang berusia 65 tahun ke atas, cenderung menentang proposal tersebut. Hanya 26% saja di kalangan usia tua ini yang setuju.

Dari sisi etnisitas, kelompok kulit hitam (73%) dan Hispanik (63%) menyatakan mendukung seandainya UBI ini diterapkan. Sedangkan dari kalangan kulit putih, hanya 35% saja yang mendukung gagasan ini. Mereka yang memiliki penghasilan tinggi dan menengah, cenderung menolak gagasan ini. Namun demikian, 63% rumah tangga berpenghasilan rendah mendukung UBI dan sekitar empat dari sepuluh Republikan di rumah tangga berpenghasilan rendah (43%) menyukai UBI ini dibandingkan dengan 17% dari mereka yang berpenghasilan menengah dan 8% dari mereka yang berpenghasilan tinggi.

Dukungan yang lebih besar terhadap UBI dari kalangan Demokrat, warga kulit berwarna, dan rumah tangga miskin di Amerika Serikat ini tidak hanya menggambarkan polarisasi horizontal dalam preferensi politik, namun juga secara vertikal menunjukkan garis tegas antara pandangan ideal kelas menengah-atas dan kelas ekonomi bawah yang seringkali berbeda.

UBI memang akan menguntungkan "mayoritas", yaitu mereka yang berada dalam kelas pendapatan rendah, atau dalam bahasa David Graeber, "we are the 99%". Sementara mereka yang telah berada dalam zona nyaman ekonomi, cenderung melihat pemberian uang cuma-cuma ini hanya akan membuat orang makin malas, tidak fair, dan menghambur-hamburkan uang negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »