JAMESTA Sebagai Hak Asasi Manusia

“All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood”

(Article 1, Universal Declaration of Human Rights)

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah serangkaian hak yang melekat dan seharusnya kita miliki sebagai manusia seutuhnya. HAM memiliki spektrum yang luas, mulai dari ekonomi, politik, pendidikan, budaya, hukum, dan lain sebagainya.

HAM sendiri adalah pijakan moral yang semestinya disadari bahwa ia melekat pada diri setiap orang. Namun karena kita memiliki kontrak sosial dengan Negara, maka negara pun memiliki kewajiban untuk membantu merealisasikannya.

Kerangka HAM dapat digunakan untuk membahas dampak apa saja yang mungkin ditimbulkan oleh ide atau kebijakan ‘radikal’ seperti Jaminan Pendapatan Dasar Semesta (Jamesta) ini?

Misalnya, alih-alih hanya melihat pertumbuhan ekonomi, kita mestinya fokus melihat apakah kebijakan pembangunan yang ada selama ini telah meningkatkan kualitas hidup yang lebih layak, akses pada perumahan dan pendidikan yang lebih baik, atau kebebasan untuk bekerja sesuai pilihan setiap individu?

Tidak seperti model kebijakan sosial lainnya yang rumit, banyak syarat, dan seringkali mengeluarkan (eksklusi) mereka yang justru paling membutuhkan, Jamesta menawarkan skema yang “universal” atau untuk semua orang, termasuk mereka yang dianggap “tidak membutuhkan” uang (seperti orang kaya dan bayi/anak-anak).

Disini kita ditantang untuk mengubah cara pandang kita soal “siapa yang pantas menerima uang Jamesta?”. Jika kita sepakat bahwa Jamesta adalah bagian HAM – dan memang semestinya begitu – maka kita juga harus mendukung pandangan bahwa “kebutuhan dasar” semestinya “untuk semua”, “tanpa diskriminasi”, dan “dijamin” oleh negara sebagai “penguasa/pengelola sumber daya”.

Merubah paradigma ini tentu tidak mudah dan perlu waktu. Gagasan budaya “mainstream” yang selama ini dipegang teguh oleh umumnya masyarakat, baik di barat maupun timur, adalah bahwa uang harus diperoleh dari bekerja. Bahwa seseorang yang “bekerja” memiliki derajat dan nilai yang lebih tinggi dibanding yang “tidak bekerja” (dengan mengabaikan penyebab-penyebab struktural, biologis, natural yang membuat orang tersebut tidak bisa/mampu bekerja).

HAM juga berguna untuk membahas nilai-nilai budaya, seperti pengertian tentang pekerjaan dan “etos kerja”, serta mitos bahwa orang tidak boleh (atau dianggap memalukan jika) menerima uang secara cuma-cuma (orang harus bekerja dulu baru mendapatkan uang sebagai hak-nya).

  1. Everyone has the right to work, to free choice of employment, to just and favourable conditions of work and to protection against unemployment.
  2. Everyone, without any discrimination, has the right to equal pay for equal work.
  3. Everyone who works has the right to just and favourable remuneration ensuring for himself and his family an existence worthy of human dignity, and supplemented, if necessary, by other means of social protection.
  4. Everyone has the right to form and to join trade unions for the protection of his interests.

(Article 23, Universal Declaration of Human Rights)

Apakah malas itu melanggar HAM? Kalau seorang individu memilih untuk “malas” atau bermalas-malasan, itu adalah hak individualnya (selama ia tidak melanggar hak orang lain atau komitmen yang ia telah janjikan). Sama dengan Hak kita untuk “tidak memilih” (golput) dalam pemilihan umum. Namun jika pemerintah/negara “malas” mengurusi hak-hak dasar warganya, itu adalah pelanggaran atau kejahatan yang tidak boleh dibiarkan.

Proposal Jamesta ada macam-macam, tetapi hampir semuanya menyertakan visi tentang bagaimana masyarakat ideal yang diinginkan, yaitu masyarakat yang bebas/merdeka, setara, dan bermartabat.

Jamesta juga bisa menjadi jembatan bagi terwujudnya ekonomi yang lebih adil, memungkinkan lebih banyak orang untuk terlibat dalam politik, dan memberikan stabilitas dan serta jaminan keamanan sehingga kita tidak perlu takut jatuh miskin dan lebih berdaya untuk membuat pilihan tentang apa yang harus dilakukan dengan hidup kita dan pekerjaan apa yang kita pilih.

Jamesta dapat memberi kesempatan pada setiap orang untuk menghabiskan lebih banyak waktu dalam pendidikan (bukan sekolah ya!) dan pengembangan diri, seperti bekerja lebih sedikit agar dapat melakukan pengembangan diri serta meningkatkan keterampilan hidup lainnya.

Adapun hak atas kesehatan, Jamesta dapat membantu orang untuk lebih mampu membeli makanan sehat. Tanpa nutrisi yang cukup dan sehat, mustahil sebuah bangsa akan mampu melahirkan generasi yang lebih baik.

Jamesta juga dapat memberikan keleluasaan dalam “mengelola waktu”. Akan lebih banyak waktu bisa digunakan untuk berolahraga, lebih banyak bersantai dengan anak-anak dan keluarga, serta mengambil bagian dalam kegiatan sosial budaya yang akan bermanfaat bagi perkembangan dan kualitas hidup individu, keluarga, serta komunitas yang lebih luas.

Meskipun dampak Jamesta yang paling nyata adalah pada hak-hak sosial dan ekonomi (bagi yang membutuhkan uang (dan waktu)), namun juga terdapat manfaat yang besar bagi hak-hak sipil dan politik.

Sulit bagi orang untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi dan politik yang lebih luas ketika mereka habis waktunya hanya untuk berjuang mencukupi kebutuhan dasar.

Jamesta juga akan membantu serta mendukung seseorang untuk melakukan pekerjaan yang “tidak diakui” secara ekonomi, seperti merawat orang tua, menjaga sungai, hutan, atau menjadi sukarelawan lainnya.

Jamesta juga akan mendorong “ledakan kreativitas” dan mendukung orang untuk melakukan pekerjaan sosial dan seni budaya (yang seringkali dibayar sangat rendah). Jamesta akan mendukung dan menambah keberanian mereka untuk mencoba karir baru atau memulai bisnis mereka sendiri.

Selain mengkritik gagasan tentang “kerja upahan” sebagai “satu-satunya alat ukur status dan kelas sosial, hal terpenting adalah HAM sebagai pedoman moral bermasyarakat tidaklah menilai/menghargai orang hanya melalui “kontribusi ekonomi” mereka kepada masyarakat (melalui kerja upahan), melainkan mengakui keberadaan manusia sebagai sesuatu yang berharga seutuhnya.

Prinsip Jamesta selaras dengan nilai-nilai ini, yakni memberi orang lebih banyak kebebasan untuk menjalani hidup mereka sendiri sekaligus mendukung orang-orang yang ingin berkontribusi pada masyarakat dengan cara di luar “kerja upahan”.

Selamat hari HAM Sedunia!


*Jamesta atau UBI adalah pembayaran rutin kepada individu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (pangan, sandang, dan papan) dalam bentuk uang tunai, tanpa syarat, dan untuk semua orang tanpa kecuali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *